Minggu, 09 November 2008

Ketika Kita Tidak Cocok Lagi

Suami Erna adalah seorang yang berpola fikir logis. Erna mencintai sifatnya yang alami dan ia menyukai perasaan yang hangat yang muncul ketika ia bersender di bahunya yang bidang. Tiga tahun dalam masa kenalan dan bercumbu, sampai sekarang, dua tahun dalam masa pernikahan, harus ia akui, ia mulai merasa lelah dengan semua itu.


Alasan ia mencintainya pada waktu dulu, telah berubah menjadi sesuatu yang melelahkan. Ia seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Ia merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak kecil yang menginginkan permen. Dan suaminya bertolak belakang darinya, rasa sensitifnya kurang, dan ketidakmampuannya untuk menciptakan suasana yang romantis di dalam pernikahan mereka telah mematahkan harapan Erna tentang cinta.

Suatu hari, akhirnya Erna memutuskan untuk mengatakan keputusan kepadanya. Erna menginginkan perceraian.

"Mengapa?" sang suami bertanya dengan terkejut.

"Saya lelah. Terlalu banyak alasan yang ada di dunia ini," jawab Erna.

Sang suami terdiam dan termenung sepanjang malam dengan rokok yang tidak putus-putusnya. Kekecewaan Erna semakin bertambah. Seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang saya bisa harapkan darinya? (kata Erna dalam hati). Dan akhirnya sang suami bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk mengubah pikiranmu?"
Erna berfikir sejenak, seseorang berkata, mengubah kepribadian orang lain sangatlah sulit, dan itu benar. Saya pikir, saya mulai kehilangan kepercayaan bahwa saya bisa mengubah pribadinya.
Erna menatap dalam-dalam mata suaminya dan menjawab dengan pelan, "Saya punya pertanyaan untukmu. Jika kamu dapat menemukan jawabannya yang ada di dalam hati saya, mungkin saya akan mengubah pikiran. Seandainya, katakanlah saya menyukai setangkai bunga yang ada di tebing gunung, dan kita berdua tahu, jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?"

Sang suami berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok."

Hati Erna langsung gundah mendengar responnya. Keesokan paginya,sang suami tidak ada di rumah, dan Erna melihat selembar kertas dengan coret-coretan yang sangat ia kenali penulisnya, di bawah sebuah gelas yang berisi susu hangat, yang bertuliskan:

"Sayang………, Saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu. Tetapi izinkan saya untuk menjelaskan alasannya."

Kalimat pertama ini menghancurkan hati Erna. Ia mencoba untuk kuat melanjutkan membacanya kembali...

"Kamu hanya bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor. Lalu saya harus memberikan jari-jari saya untuk memperbaiki programnya.

"Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa masuk mendobrak rumah, membukakan pintu untukmu.

"Kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi: saya harus memberikan mata untuk mengarahkanmu.

"Kamu selalu pegal-pegal pada waktu 'tamu' kamu datang setiap bulannya: saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal.

"Kamu senang diam di dalam rumah, dan saya kuatir kamu akan jadi 'aneh'. Lalu saya harus memberikan mulut saya untuk menceritakan lelucon dan cerita-cerita untuk menyembuhkan kebosananmu.

"Erna……….Saya harus menjaga jari, kaki, mata, tangan dan mulut saya, sehingga ketika nanti kita tua, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu, memegang tanganmu, menelusuri pantai, menikmati sinar matahari dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga kepadamu yang bersinar seperti wajah cantikmu....

"Juga sayangku, saya begitu yakin ada banyak orang yang mencintaimu lebih dari cara saya mencintaimu. Tapi saya tidak akan mengambil bunga itu lalu mati...."

Air mata Erna jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur dan ia membaca kembali...

"Dan sekarang sayangku, kamu telah selesai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri di sana dengan susu segar dan roti kesukaanmu...."

Erna segera membuka pintu dan melihat wajahnya yang dulu sangat ia cintai. Sang suami begitu penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti. Erna tidak kuat lagi dan langsung memeluknya dan rebah dibahunya yang bidang sambil menangis....

____________________
Info : Crystal merupakan Obat Sakit Keputihan alami yang terbukti AMPUH !!!

Tidak ada komentar: